Carilah
film-film di youtube yang berhubungan dengan bab 4
1. Describe
the factors that influence consumer behavior Online
Faktor-Faktor yang mempengaruhi
perilaku konsumen online :
Konsumen merupakan seorang raja
dalam sebuah perdagangan. Konsumen selalu menginginkan sesuatu dengan harga
murah dan kualitas baik, selain itu juga seorang konsumen biasanya menginginkan
kemudahan dalam proses berbelanjanya. Untuk mempermudah konsumen dalam mebeli
suatu produk maka muncullah cara berbelanja secara online atau juga dikenal
sebagai online shop.
Cara belanja secara online ini
maksudnya adalah konsumen tidak melihat secara langsung barang yang dijual,
tapi hanya bisa melihatnya melalui foto/ gambar. Jika sudah cocok/ sesuai
dengan model, keinginan dan harga produk yang diinginkan maka konsumen akan
memesan kepada penjual. Penjual dan pembeli lalu melaksanakan proses transaksi
secara lebih intensif. Biasanya prosuk yang sudah dibeli dikirimkan melalui
jasa pengiriman kilat. Dengan syarat konsumen harus mentransfer terlebih dahulu
uang pembelian dan mengirimkan bukti transfernya. Dengan adanya media jejaring
sosial sistem penjualan secara online ini semakin banyak digunakan baik oleh
konsumen maupun oleh penjual. Ditambah juga sekarang semakin banyak konsumen
menggunakan handphone blackberry yang juga merupakan salah satu media berjualan
online.
Ada banyak alasan konsumen untuk
menggunakan media berbelanja secara online ini salah satunya adalah efisiensi
waktu untuk mencari sebuah barang. Alasan lainnya adalah harga yang sama dengan
harga toko, jenisnya berfariatif, bisa dilihat dalam satu tempat dan lain-lain.
Berbelanja secara online memang sangat memudahkan konsumen yang tidak memiliki
banyak waktu untuk berbelanja tetapi ingin mengikuti perkembangan model. Namum
diantara kemudahan tersebut berbelanja secara onlinepun ternyata memiliki
kekurangan. Kekurangannya antara lain terkadang apa yang diinginkan berbeda
dengan yang didapatkan, proses pengiriman yang cukup lama dan tidak bisa
melihat langsung sebuah produk.
2. Understand
the Decision making process purchasing online.
Proses
pengambilan keputusan pembelian online :
Keputusan
pembelian merupakan suatu tahapan proses dimana konsumen melakukan pembelian,
sehingga keputusan pembelian merupakan bagian dari perilaku konsumen pada saat
memutuskan untuk membeli. Perilaku konsumen merupakan respon psikologis yang
kompleks, yang muncul dalam bentuk perilaku tindakan yang khas secara
perseorangan yang langsung terlibat dalam usaha memperoleh dan menggunakan
produk, serta menentukan proses pengambilan keputusan dalam melakukan pembelian
produk, termasuk dalam melakukan pembelian ulang (Hasan, 2009). Sehingga
sangatlah jelas dari definisi tersebut bahwa keputusan pembelian merupakan
bagian dari perilaku konsumen. Keputusan pembelian berkaitan dengan kegiatan
dimana seseorang konsumen akan memutuskan untuk mencari suatu produk atau jasa
yang dia inginkan. Keinginan ini dimulai dari kebutuhan yang dirasakan mendesak
bagi konsumen tersebut (Sarwono & Prihantono, 2012). Ada beberapa pola
perilaku yang menentukan ketika akan melakukan pembelian (Hill, 1996). Adapun
tahapannya adalah sebagai berikut :
- Mengidentifikasi Kebutuhan : Tahap pertama adalah identifikasi kebutuhan. Ini adalah titik di mana konsumen potensial menyadari bahwa mereka perlu membeli produk, atau memanfaatkan suatu layanan sesuai dengan apa yang dibutuhkan.
- Pencarian Informasi : Setelah kebutuhan telah diidentifikasi oleh konsumen, tahap selanjutnya adalah melakukan pencarian informasi untuk mengetahui bagaimana kebutuhan dapat dipenuhi.
- Tahap Evaluasi : Setelah pencarian telah dilakukan, tahap evaluasi dimulai, dengan konsumen mengevaluasi alternatif yang tersedia untuk menentukan mana yang terbaik, seperti mengevaluasi fitur produk dan merek.
- Keputusan Pembelian : Setelah evaluasi alternatif telah dilakukan, langkah selanjutnya adalah keputusan, keputusan untuk membeli. Dalam tahap ini, konsumen memproses informasi dari pencarian informasi dan memutuskan melakukan opsi pembayaran pada produk.
- Evaluasi Pembelian : Tahap akhir dari proses pengambilan keputusan adalah evaluasi pembelian. Pada tahap ini, konsumen menilai apakah produk atau jasa telah memenuhi harapan mereka. Proses ini tidak hanya mempengaruhi apakah mereka akan menjadi konsumen tetap, tetapi juga apakah mereka akan menawarkan saran yang positif atau negatif kepada konsumen potensial lainnya.
3.
Describe how companies are building one to
one relationship
https://www.youtube.com/watch?v=WTXBEDsJPQA
Perusahaan membangun
hubungan one-to-one
- Pemasar
one-to-one, pengirim, membuat sandi pesan secara individual bagi para
pelanggan dan calon yang diidentifikasi dari database;
- Pesan
kemudian disampaikan melalui saluran komunikasi langsung, seperti surat
langsung, seorang petugas penjualan, pemasaran melalui telepon, atau
langsung melalui Internet
- Pelanggan
atau calon pelanggan, penerima, menerjemahkan pesan secara personal;
- Pelanggan
atau calon pelanggan merespons komunikasi tersebut dlaam bentuk suatu
respons, pembelian, atau komunikasi lainnya;
- Pemasar one-to-one menangkap respons, mengembalikannya kepada database pemasaran di mana dapat membantu membentuk komunikasi pemasaran berikutnya.
- Mengidentifikasi
para pelanggan yang paling banyak dan paling sedikit menguntungkan: Para
pemasar dapat berhenti melakukan pemborosan upaya komunikasi pemasaran dan
biaya dengan melalui pengeluaran yang lebih proposeional pada pelanggan
yang paling banyak meguntungkan dan berkurang pada mereka yang menyediakan
kesempatan penjualan paling sedikit.
- Menciptakan
hubungan jangka panjang dengan para pelanggan: biayannya secara signifikan
kurang untuk mempertahankan pelanggan saat ini dibandingkan dengan calon
untuk meningkatkan konsumsi atau melakukan penjualan sliang atau menjual
barang bermutu tinggi dengan harga mahal kepada pelanggan yang ada saat
ini dibandingkan memenangkan konsumen yang baru.
- Melakukan upaya
pemasaran sasaran hanya kepada orang yang kemungkinan tertarik: Dengan
one-to-one marketing, sejumlah perusahaan dapat memprediksi dengan lebih
baik respons atas penawaran pemasaran, memungkinkan mereka untuk
melaksanakan kampanye yang sangat tersegmentasi dan dikendalikan dengan
ketat
- Menaujarkan
pesan yang beragam bagi konsumen yang berbeda: Daripada melakukan
periklanan membabi-buta secara masal, para pemasar dapat menyesuaikan
komunikasi pemasaran menurut kebutuhan masing-masing pelanggan atau
sejarah pembelian mereka.
- Meningkatkan pengetahuan mengenai para pelanggan dan colon pelanggan: Para pemasar masal mengetahui sangat sedikit tentang pelanggan mereka. Dengan one-to-one marketing dan database yang telah dikembangkan dengan baik, para pemasar dapat dengan mudah dan secara reguler mengakses secara mendalam, informasi seperti sensus tentang pela’nggan mereka, memungkinkan mereka untuk membuat keputusan pemasaran yang lebih informatif.
Masalah
Loyalitas dan kepercayaan pada e-commerce
Internet telah
menjadi kebutuhan sebagian manusia di dunia. Apalagi dengan hadirnya e-commerce
sebagai salah satu bentuk perdagangan yang relatif baru. Masyarakat semakin
termudahkan dan terbantu karena e-commerce menawarkan fleksibilitas yang lebih
besar, pencapaian pasar yang lebih luas, struktur biaya yang lebih murah,
transaksi yang lebih cepat, lini produk yang lebih luas, dan kenyamanan serta
kustomisasi yang lebih luas pula. Namun, karena kemudahannya itulah, maka
konsumen pun semakin mudah untuk membandingkan penawaran yang ada dari para
penjual di seluruh dunia. Akibatnya, terjadi persaingan harga yang ketat dan
memudarnya loyalitas terhadap merk.
Berbicara
tentang loyalitas konsumen di bisnis on-line, tentunya tidak terlepas dari
reputasi dan kepercayaan pelanggan. Dalam studi yang dilakukan Stephen S.Standifird tentang Reputation and
E-commerce, studi pada situs ebay.com, didapatkan hasil sebagai berikut:
Saat melaksanakan e-commerce, penjual dengan reputasi
positif lebih tinggi dari penjual lain cenderung tidak bisa menjual barangnya
lebih mahal dari yang reputasi positifnya lebih rendah.
Penjual dengan
reputasi negative lebih tinggi, akan terpaksa menjual barangnya lebih murah
dari penjual yang reputasi negatifnya lebih rendah.
Reputasi negative lebih berefek terhadap kemampuan
perusahaan menjual produk daripada reputasi positif.
Hasil tersebut
tentunya sedikitbanyak menunjukkan bahwa reputasi berhubungan dengan
kepercayaan pelanggan. Konsumen dalam e-commerce tidak mudah percaya dan tidak
mudah menjadi loyal, bila kita amati hasil penelitian di atas. Sehingga, dengan
sedikit saja reputasi negative, maka dapat berdampak luar biasa bagi penjualan
produk. Sedangkan dengan terjadinya peningkatan reputasi positif, dampaknya
tidak terlalu signifikan pada penetapan harga yang bisa dihubungkan dengan
loyalitas konsumen. Hal ini menunjukkan sikap skeptis dari konsumen.
Kepercayaan, yang didefinisikan sebagai kesediaan
seseorang untuk menjadi terbuka dan menjadi mudah ‘diserang’ oleh pihak yang
berhubungan, meningkatkan kecenderungan bahwa ia bersedia untuk terlibat dalam
perilaku mempercayai. Dalam e-commerce, yang menentukan kepercayaan konsumen
ini tidak hanya faktor dari dalam diri konsumen seperti disposisi terhadap
kepercayaan itu sendiri, atau faktor dari perusahaan seperti reputasinya. Tapi
juga faktor teknologi, seperti kualitas dari websitenya, kepastian secara structural,
dan kenormalan situasional situs. Dengan menumbuhkan kepercayaan konsumen, maka
para e-vendor pun dapat menggaet loyalitas konsumen terhadap merk mereka.
Namun, apakah
loyalitas pelanggan pada online vendors dibangun atas dasar yang sama dengan loyalitas
pelanggan pada pasar non-internet? Menurut David Gefen dalam Customer Loyalty
in E-Commerce, loyalitas pelanggan pada suatu online vendor didasari oleh
beberapa aspek yang sama dengan loyalitas pelanggan pada pasar non-internet,
yaitu kualitas dari pelayanan dan kepercayaan dari pelanggan.
Menurut Srini
S.Srinivasan, Rolph Anderson, dan Kishore Ponnavolu dalam jurnalnya Customer
loyalty in e-commerce: an exploration of its antecedents and consequences,
e-loyalty adalah sikap menyukai dari konsumen terhadap e-retailer yang
mengakibatkan perlaku pembelian berulang. Dari penelitian tersebut, didapat
bahwa faktor kustomisasi, interaktivitas kontak, pengelolaan, kepedulian,
komunitas, pilihan, dan karakter dalam suatu website e-commerce, berhubungan positif
dengan e-loyalty. Adapun e-loyalty berhubungan negative dengan pencarian
alternative oleh konsumen, dan berhubungan positif dengan word of mouth yang
positif dan kesediaan untuk membayar lebih. Apabila dihubungkan dengan
penelitian sebelumnya tentang reputasi, maka dapat disimpulkan bahwa reputasi
memang mempengaruhi kepercayaan konsumen, namun belum cukup untuk membangun
sebuah loyalitas konsumen, sehingga perusahaan dengan reputasi positif lebih
tinggi belum tentu bisa membuat konsumennya mau membayar lebih untuk produknya.






0 komentar:
Posting Komentar